“To live a creative life we must lose our fear of being wrong. Thank you for visit "Catatan Ain". I hope you can find what you want. -Ain-
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2015

Hujan Kecil

   Aku menopang kepalaku di depan jendela kamar. Hujan di luar sana masih setia mengguyur, padahal sudah hampir malam. Sama sepertiku yang masih setia membuang waktu disini. Lamunanku berhembus kemanapun yang ia inginkan. Aku ingat 5 tahun lalu, di depan sekolah, di bawah pohon Trembesi, saat aku menunggu jemputan, dan jam 2 siang. Kamu sedang berkelahi dengan anak SMK sebelah. Entah kenapa pemandangan itu membuatku tak bergeming sementara yang lainnya sibuk menyelamatkan diri. Hingga akhirnya aku melihatmu lemas dengan muka babak belur. Tawamu lepas tanda kemanangan.

   "Woy cemen lu pada!! Sini lawan gue lagi! Hahaha."

   Esoknya kita bertemu di depan ruang kepala sekolah. Rupanya kamu baru saja di adili ya? Aku ingat wajah kecutmu saat keluar dari ruangan itu. Kamu menatapku dengan sinis sambil pergi begitu saja. Ya, kita memang tak saling kenal saat itu. Semenjak saat itu kita saling bertemu. Entah di kantin, taman sekolah, di dekat kamar mandi saat kamu sedang merokok, di tempat parkir atau di lorong sekolah. Agaknya kamu sedikit berandalan pikirku saat itu. Tapi, entah mengapa sepertinya kamu berhasil mencuri sedikit perhatianku.
   Awalnya hanya sedikit perhatianku yang kamu curi, tapi lama-lama aku penasaran. Aku mencari tahu siapa namamu sebagai awal. Mereka memanggilmu Regi. Katanya kamulah preman sekolah. Kamu raja dari setiap perkelahian. Kamu tidak terkalahkan. Aku cukup terkejut mendengar fakta tentangmu. Kamu bukanlah laki-laki yang ganteng. Baikpun tidak, tapi entah kenapa kamu berhasil mencuri perhatianku.
   Sudah lama aku memendam. Karena aku tahu, kamu tidak akan pernah melihatku. Hingga akhirnya, di depan sekolah, di bawah pohon yang sama, di jam yang sama, tapi kali ini ada sedikit hujan kecil yang ikut meramaikan aku melihat kamu dipukuli oleh anak SMK sebelah yang rupanya datang untuk balas dendam. Kali ini kamu sendirian dan mereka bergerombol. Kamu tersungkur dan tak ada satupun yang mendekat. Dan disini cerita kita di mulai.

    "Kamu gapapa?"

    Aku mengguncang tubuhmu. Tapi kamu tidak menjawab bahkan bergerakpun tidak. Jujur, saat itu aku sedikit panik. Aku berusaha membawamu ke tepi jalan, dan saat itu mulai banyak orang yang datang menolong. Kamu di bawa ke rumah sakit. Kata mereka kamu hampir mati karena kehabisan darah. Tapi untung kamu masih bisa tertolong.
    Aku tidak melihatmu di sekolah keesokan harinya. Ya karena kamu masih di rumah sakit. Haruskah aku menjengukmu? Pikirku. Aku putuskan pergi kemana kamu di rawat pulang sekolah. Sampai di rumah sakit aku tak melihat seorangpun menungguimu. Kamu terlihat menyedihkan dengan beberapa luka dan memar di pipi dan ujung bibirmu. Sisa darah yang sudah kering membuatmu terlihat jelek. Saat aku sedang asik dengan lamunanku, saat itu juga kamu terbangun. Dan menatapku.

   "Siapa lu?"

   Aku hampir terperanjat kaget karena nada suaramu yang cukup tinggi.

   "Ehh eeem gini kemarin gue yang nolong lu waktu di keroyok sama anak-anak SMK."

   "Oh thanks."

   "Iya. Lu sendirian?"

   "Emang yang lu liat gue sama siapa?"

   "Oh iya sendirian. Eh kenalin nama gue Dian. Gue adik kelas lu."

   "Gue Regi."

   "Iya gue tau kok."

   "Eh gue laper nih. Ambilin makan dong."

   Aku tak melihat ada makanan di ruangan itu. "Hmm gue ada roti. Lu mau?"

   Tanpa menjawab kamu langsung mengambil roti yang baru aku keluarkan dari dalam tas.

***
   Di, cepetan dong gue udah di depan nih. Regi.

   Begitu isi smsmu. Setelah kejadian itu, kita jadi semakin dekat. Kamu sering mengajakku ke tempatmu dan teman-temanmu yang kamu sebut sebagai Markas Pelangi. Awalnya aku tertawa dengan namanya, karena sangat tak sesuai dengan sifat dan sikapmu yang arogan. Di tambah teman-temanmu yang di wajah dan telinganya penuh piercing. Tapi katamu nama itu punya filosofi. Dimana teman-temanmu sifatnya berbeda-beda seperti pelangi yang warnanya juga berbeda-beda, selain itu di balik sifat masing-masing kalian yang mengerikan itu ada sifat indah, baik dan manis seperti pelangi. Aku cukup tertegun.
 
   "Sorry ya gue lama. Abis gue bangun kesiangan."

   "Yaudah cepetan naik!"

   Hampir seminggu ini aku selalu pulang dan berangkat sekolah bersamamu. Walaupun sepanjang jalan sering tak ada sepatah katapun yang di bicarakan. Memang awkward. Tapi aku sangat suka. Karena aku bisa memandang punggungmu sepanjang jalan dan dalam diam aku bisa melamunkan bagaimana kalau aku memelukmu.

   "Di..."

   "Iya."

   "Gue suka sama lu."

   Suaramu sangat pelan dan bergetar. Aku hampir tak mendengarnya di tambah angin yang berhembus cukup kencang. "Haah?! Apaan? Gue ga denger."

   "Di, gue suka sama lu!!"

   Bagaikan tersetrum berjuta-juta kilovolt detak jantungku memburu begitu cepat begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Regi. Seandainya aku tidak sedang diatas motor mungkin aku sudah berjingkrak-jingkrak kesenangan. Apa aku tidak salah dengar? Atau aku sedang bermimpi? Yaampun apakah ini akhir dari penantianku?

   "Di, kamu masih ga denger ya?"

   "Iya aku mau jadi cewe kamu Regi. Aku mau banget!!"

   "Hahaha tapi aku kan ga ngajakin kamu pacaran."

   Ya ampun betapa bodoh dan malunya aku. Iya aku terlalu bersemangat. Ya ampun apa yang harus aku katakan. Ingin rasanya aku lompat saja dari motor ini. "Oh iya ya hehe."

   "Hahahaha yaampun kamu kok jadi kaya orang bego gitu sih. Yaudah jadi mulai saat ini kita pacaran ya, Di."

   Mulai detik itu. Tanggal 21 Oktober 2009. Jam 07.03. Di atas motormu. Aku milikmu. Dan kita bersama. Ini akhirnya karena ketidaksengajaanku melihatmu berantem dengan anak SMK sebelah dan tidak mau bersembunyi. Akhir yang tidak pernah terduga oleh siapapun. Dan yang katanya preman sekolah dan raja perkelahian kini menjadi pacarku. Tidak ada hal yang paling menyenangkan dari hari itu.

***
   Tidak terasa sudah hampir 3 bulan ini kita bersama. Kamu tidak berubah masihlah si preman sekolah dan raja perkelahian. Walaupun kita sering bertengkar karena hal itu, tapi kamu memang orang yang mudah tersulut emosinya. Satu hal yang membuatku salut padamu adalah kamu orang yang manis padaku, tidak main kasar seperti saat kamu sedang berantem dengan lawanmu, kamu tidak pernah mengumpatku seperti kamu mengumpat lawanmu, kamu sangat sabar menghadapi sikap kekanak-kanakanku. Tidak salah mengapa aku benar-benar mencintaimu, Regi.
   Seperti biasa pagi itu, kamu menjemputku. Kali ini tidak ada suasana awkward lagi saat di jalan. Kita bercanda sepanjang jalan sampai-sampai kadang tidak sadar kalau sudah tiba di sekolah. Dan kali ini aku bisa memelukmu secara terang-terangan, tidak hanya menatap punggungmu dalam diam lagi.
    Hari itu hari sabtu, dengan jam terakhir adalah ulangan sejarah. Aku sudah menyiapkan diri tadi malam agar bisa menjawab soal sejarah dengan baik. Tapi, mungkin aku memang tidak cukup baik di kelas sejarah. Seberapapun aku berusaha aku tak pernah benar-benar berhasil mengerjakan soalnya. Alhasil, aku keluar paling akhir. Kali ini aku tidak melihatmu menunggu di depan kelasku, seperti biasanya. Saat itu juga aku sadar, orang-orang berlari keluar sekolah. Karena penasaran ada apa, aku berlari keluar.
   Di depan sekolah, di bawah pohon Trembesi, jam 11 siang, di bawah hujan kecil aku melihatmu tertusuk pisau oleh lawanmu sendiri. Seketika orang-orang di sekitarku menjerit. Dadaku sakit. Lututku lemas. Air mataku menetes. Kamu jatuh berlutut dengan memegang dada. Aku melihat darah keluar dari mulutmu. Kamu tersungkur bersama pisau yang masih ada di dadamu.

***
   Kamu sudah pergi untuk selamanya. Kamu sudah tidak ada lagi disini. Kamu meninggalkanku. Kamu benar-benar pergi. Tidak ada lagi Regi sang preman sekolah dan raja perkelahian. Tidak ada lagi Regiku sayang yang selalu membuatku tertawa. Kini aku mengenangmu. Wangi tanah basah di luar sana mengingatkanku padamu. Aku merindukanmu, Regi..

Ain

Selasa, 03 September 2013

Aku Masih Mengagumimu

Untuk sahabatku yang selalu mengagumi dari belakang.

   Siang itu, aku melihat senyummu yang lebar terpampang jelas di wajahmu. Kamu menari-nari konyol di depan kelas. Tidak kusadari senyum simpul juga terulas di bibirku. Senyum simpulku sirna ketika kamu berlalu di balik pintu kelas bersama teman-temanmu. Kita hanya teman sekelas, dari pertama aku tidak pernah mengucapkan satu kata pun padamu. Aku hanya menatap punggungmu dari jauh. Dan menatap telingamu dari samping, karena tempat duduk kita berderetan. Entah kenapa setiap ingin bicara padamu bibirku selalu bergetar.
   Pipimu yang chubby selalu membuatku gemas. Mata sipitmu yang selalu tertutup kacamata membuat mataku tak berkedip. Badanmu yang berisi membuatku ingin memelukmu. Ponimu terkadang membuatku kagum, dan tidak jarang membuatku tertawa. Tingkahmu yang lucu, membuatku tambah menyukaimu. Jaket birumu membuatku ingin memilikinya, karena aku juga suka biru. Suaramu memang tidak seperti laki-laki lain yang lantang dan berwibawa, tapi aku tetap menyukaimu dengan suara cemprengmu itu.
   Entah sampai kapan aku hanya bisa melihat punggungmu dari jauh, seperti ketika aku berjalan di belakangmu. Entah sampai kapan aku hanya bisa melihat pipi bakpaumu, tanpa bisa ku cubit. Entah sampai kapan aku hanya bisa melihat jemarimu bergoyang-goyang ketika kamu berjalan, tanpa bisa aku genggam. Entah sampai kapan ponimu masih berantakan, tanpa bisa kurapikan. Sampai kapan aku hanya tersenyum di balik senyummu bersama teman-temanmu. Sampai kapan aku hanya bisa memendam perasaanku ini?
   Mungkin sampai aku berani bicara padamu. Aku menyukaimu.

Ain

Sabtu, 06 April 2013

Seberapa Pentingnya Aku?

   Aku menggenggam erat ponsel yang ku tempelkan ke telingaku. Kamu dimana sih? Telepon dan pesanku kamu abaikan! Katanya sudah di kantor, tapi kenapa masih terlihat sibuk? Game lagi? Asssh! Batinku dalam hati. Aku menarik nafasku dalam-dalam mencoba menahan emosiku. Ini adalah malam minggu. Harusnya malam untuk aku dan dia. Tapi sampai sekarang dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Mengabaripun hanya sesekali apalagi menemaniku, itu hal yang hampir tidak mungkin dia lakukan. Wajar saja, dia sibuk. Oke aku akan berusaha lebih sabar. Tidak ada salahnya mengalah untuk hasil yang lebih baik.
***

   Hujan deras turun menemaniku. Dia belum juga memberiku kabar. Aku tertidur di sofa kamarku dengan dingin membalut tubuhku.
   Aku terbangun mendengar suara ponselku sendiri. Ada sebuah pesan, darinya. Dia meminta maaf baru membalas pesanku karena tadi dia sangat sibuk dan baru pulang. Dia berperilaku seperti tidak ada beban. Apa dia tidak tahu bahwa perasaanku sudah tidak karuan daritadi? Aku ingin marah dan berteriak tepat di kupingnya. Aku ingin mengatakan aku rindu padanya. Tapi aku berusaha agar terlihat tenang dengan sedikit rasa kesal dalam diriku. Aku mengurungkan niatku untuk membuat malam ini menjadi seperti malam biasanya, bertengkar. Awalnya aku berniat meneleponnya, tapi ku pikir dia sudah lelah. Apabila aku ganggu dia pasti marah.
***

   Hariku dengannya semakin terasa jauh. Karena kesibukannya. Jika dia tahu aku mengeluh seperti ini, dia pasti mengatakan "kamu perlu orang yang selalu ada untuk kamu". Kata-kata yang memuakkan yang sepertinya menunjukkan bahwa dia tidak benar-benar mencintaiku. Terkadang aku memilih untuk diam karena aku tidak ingin membuat dia berkata seperti demikian. Itu hanya menambah emosiku dan merusak hubungan kita dengan kata akhir yang tersebut 'putus'.
   Terkadang aku berpikir, apakah kamu pernah memikirkan hal yang sama denganku? Apa kamu pernah manjadikanku yang pertama seperti aku menjadikanmu yang pertama saat aku merindukanmu? Apa kamu pernah berpikir apakah aku ini mengkhawatirkanmu atau tidak? Apakah dia pernah merindukanku seperti aku merindukannya? Apakah rasa cintanya sama besar dengan rasa cintaku padanya? Sepenting apakah aku untuknya?
   Jawabannya hanya dia yang tahu. Aku hanya bisa menebak.
   Jangan khawatir, aku akan tetap berusaha memberikanmu yang terbaik dengan sisa kesabaranku yang masih ada, walau katamu aku tidak pernah sabar. Inilah aku. Terima kasih sudah menerimaku.

Ain

Aku Memilih Bisu

   Mobilku terhenti di sisi jalan. Dari balik kaca mobilku terlihat seorang pria bergandengan tangan bersama seorang wanita, terlihat sangat mesra sepertinya mereka memiliki hubungan yang istimewa. Wajahnya tidak asing bagiku. Itu adalah Bagas dan Elina, pria yang kucintai bersama sahabatku. Seketika itu wajahku menjadi merah padam, darah mendidih sudah di ubun-ubun. Bagaimana tidak seharian ini Bagas tidak menjawab telepon dan pesanku, dia malah berduaan dengan sahabatku sekarang. Hatiku seperti dirobek-robek dengan paksa membuatnya menjadi hancur berkeping-keping. Emosi berkecamuk di dalam diriku. Tetesan air berusaha mengalir dari pelupuk mataku, tapi tertahan oleh kuatnya emosiku. Aku memacu mobilku dengan kecepatan hampir penuh. Aku menyalakan musik dengan sangat keras- untuk memaksakan senyum tersemat di wajahku. Sepanjang jalan jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Membuat dadaku terasa sakit dan panas. Tega-teganya sahabatku menggoda kekasihku.
***

    Ponselku bergetar, tanda panggilan masuk. Tertulis di layar ponselku 'Beloved', panggilan sayangku pada Bagas. Untuk apa dia menghubungiku? Kekesalan masih menjamur di batinku. Dengan penuh keterpaksaan aku menekan tombol Ok untuk mengangkat teleponnya.
   "Halo."
   "Halo, Van. Maaf tadi aku sibuk sama tugas kuliah jadi enggak sempat angkat telepon kamu, sayang."
   Sibuk berpacaran dengan sahabatku sepertinya. Batinku.
   "Yasudah tidak apa-apa. Kamu baru pulang?"
   "Iya. Aku sudah ngantuk habis ini mau langsung tidur. Tidak apa-apa kan?"
   "Oh iya tidak apa-apa."
   Tiba-tiba suara di seberang telepon menghilang tergantikan nada tut tut. Dia mematikan teleponnya. Tanpa mengucap salam dan mengatakan sesuatu padaku. Aku menahan emosiku. Hatiku menjadi panas kembali. Aku tidak menyangka sahabatku dan kekasihku tega mengkhianatiku. Kali ini aku benar-benar menangis. Aku memilih menghabiskan waktuku untuk tidur saja malam itu.
***

    Elina&Vania. Ukiran nama di meja kantin itu membuyarkan selera makan siangku. Ukiran itu memang aku dan Elina yang membuatnya. Tapi itu dulu, sebelum Elina merebut kekasihku.
   "Hei!"
   Seseorang menepuk pundakku. Ternyata Elina. Dengan senyum mengembang lebar di wajahnya, seolah tidak ada apa-apa. Aku berusaha menutup ukiran nama kami berdua dengan mangkuk sambal agar dia tidak merusak moodku dengan perbincangan seputar persahabatan yang kelihatannya indah.
   "Sendirian aja nih."
   Seulas senyum terpaksa terukir jelas di wajahku. Aku mempersilakannya duduk tepat disampingku. Aku menatap wajahnya sambil mengunyah bakso yang sudah sejak tadi aku makan. Aku tidak menyangka, seorang sahabat yang menemaniku sejak masih di sekolah dasar tega mengkhianatiku. Aku mencoba menutupi emosi dan sakit hatiku di depan Elina. Aku membuat semuanya terlihat biasa, seperti tidak ada apa-apa.
***

   Ini adalah bulan kedua terhitung setelah aku melihat Bagas dan Elina bermain di belakangku. Seperti sudah kebal dengan keadaan ini, pikiran besar yang mengganjal di otakku menjadi beban biasa untukku. Menangis adalah hal biasa yang sudah aku lakukan. Pemandangan kekasihku dan sahabatku mengkhianatiku adalah hal yang biasa.
   Semakin hari hubunganku dengan Bagas semakin renggang. Aku memilih bertahan untuk tetap merasa sakit seperti ini. Semata-mata karena aku mencintainya. Aku memilih menghabiskan air mataku untuk meratapi semuanya. Aku memilih berada di posisiku, mempertahankan kekasihku dan menemani sahabatku. Aku memilih untuk menikmati sakit akibat pengkhianatan sahabat dan kekasihku. Aku memilih terdiam dengan sekelumut rasa sakit bergumpal didadaku. Semuanya tertahan dalam kebisuanku. Mulutku tetap terkunci rapat sambil menikmati cinta yang semakin hari semakin tipis dan hilang. Aku memilih diam hingga semua berakhir karena cinta dan kasihnya sudah benar-benar habis.
   Aku percaya sebuah ketulusan akan mengalahkan segala rasa cintanya pada sahabatku yang semu. Pada akhirnya dia akan menyadari siapa yang benar-benar mencintainya.

Ain

Sabtu, 30 Maret 2013

Maafkan Aku

"Udahlah! Ini tuh salah! Aku minta roti bakar sosis bukan stroberi ini!"

"Maaf sayang. Iya aku beliin yang sosis ya. Tapi jangan di lempar lagi jamnya."

"Kamu emang ga ngerti aku!"

   Aku mengingat kembali saat-saat beberapa bulan yang lalu. Saat dia salah membelikanku roti bakar dan aku melempar mukanya dengan jam tangan couple  yang tadinya melekat di pergelangan tanganku. Aku ingat saat itu, aku sangat kesal karena kebodohannya. Dia sangat bodoh bagiku. Karena sudah 5 bulan berpacaran denganku tapi masih saja tidak ingat apa saja kesukaanku. Aku ingat betul aku meninggalkannya di depan kelasku. Tapi dia mengejarku untuk memasangkan jam yang aku lemparkan ke mukanya. Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat sinis. Seakan tidak mempedulikan usahanya, aku melepaskan jam itu dan melemparkannya lagi. Dia sangat bodoh dan tidak tau malu. Dia memang laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Hanya membuatku malu dengan setiap tingkah lakunya. Sejujurnya aku hanya terpaksa menjalani ini semua, hanya karena dia sangat kaya dan gampang di bodohi.
   Banyak orang yang membicarakanku karena tingkahku yang kelewatan pada pacarku saat itu. Aku tidak peduli. Yang menjalani adalah aku dan dia, bukan urusan untuk orang lain. Mereka berkata bahwa aku adalah perempuan tidak tau diri, sudah punya pacar yang baik malah di sia-siakan. Dalam pikiranku mereka tidak tau kalau pacarku sebenarnya bodoh. Benar-benar bodoh. Semakin lama semakin ku rasakan kebodohan pacarku. Suatu hari aku bertemu dengannya berjualan di pasar. Demi Tuhan itu adalah hal yang paling memalukan. Pacarku berjualan di pasar akan merusak reputasiku di sekolah nanti. Seketika aku menyeretnya keluar dari sebuah toko yang lumayan besar.

"Kamu ngapain sih disini!!"

"Aku bantuin ibu jualan. Pegawainya lagi ga masuk. Kamu beli apa sayang?"

"Udah! Gausa banyak omong! Cepetan pulang!"

"Tapi..."

   Belum selesai dia melanjutkan aku langsung menyeretnya tanpa peduli apa yang akan dikatakannya. Aku benar-benar malu saat itu. Ingin rasanya aku mengakhiri hubungan ini. Kalau saja dia bukan orang kaya sudah aku akhiri dari dulu. Aku membawanya pulang. Di sepanjang jalan dia menenangkanku dengan nada bicara khasnya, sedikit merengek seperti anak kecil. Aku sangat muak dengannya. Aku hanya diam tanpa mendengarkan ocehannya yang tidak penting. Dasar bodoh tidak pernah membanggakan untung saja orang kaya, pikirku. Bukannya pulang dia malah membawaku ke sebuah taman. Dia turun dari motor dan sedikit bersujud di depanku untuk meminta maaf.

"Sayang maafin aku. Tadi aku cuma bantu ibu."

"Aku ga peduli! Aku malu!"

"Sayang maafin aku. Aku janji ga akan jualan di pasar lagi supaya kamu ga malu lagi. Maafin aku sayang."

   Matanya memerah dan sedikit berkaca-kaca. Aku hanya diam mendengar dia berkata seperti itu. Aku benar-benar tidak peduli dengannya. Aku sangat benci kepadanya. Dasar laki-laki yang bodoh tidak pernah memahamiku. Itulah yang ada di dalam pikiranku. Aku muak dengan setiap kata-kata maaf yang selalu dia lontarkan. Aku bosan. Aku menyalakan motor dan meninggalkannya. Dia sempat mengejarku sambil berteriak-teriak memanggil namaku. Aku tidak peduli padanya dan aku memacu motorku dengan lebih cepat lagi. Sepanjang jalan aku hanya menggerutu saja.
   Keesokan harinya, saat jam istirahat pacarku menghampiri aku yang sedang duduk bersama teman-temanku di taman sekolah. Dia menyeretku menjauh dari teman-temaku. Cengkramannya sangat kuat sehingga aku tidak bisa melepaskannya. Aku sempat berteriak sampai orang-orang di sekitar menoleh kepada kami. Dia melepaskanku tepat di bawah pohon palm, matanya membelalak dan mukanya merah padam.

"Mau kamu apa sih! Kamu ga ngerti banget di sayang! Kamu tarik aku dari pasar dan kamu ninggalin aku di taman! Kamu maunya apa sih?!"

   Dia membentakku. Ini adalah kali pertama dia membentakku. Dia meninggalkanku disana bersama beberapa pasang mata memelototiku dengan mulut yang menganga. Oh Tuhan aku tidak menyadari air mataku menetes. Aku tidak menyangka dia tega membentakku di tengah kerumunan orang. Aku sangat malu. Aku berlari menuju kelasku dengan tangan menutupi wajah. Hingga jam pulang aku hanya menangis hingga mataku menjadi bengkak. Sampai dirumah aku mengirimkan padanya sebuah pesan singkat.

"Maafin aku buat semuanya. Aku memang bukan pacar yang baik buat kamu. Sebaiknya kita putus aja sekarang. Kamu pasti bisa dapat yang lebih baik. Terima kasih..."

  Tidak berselang lama, handphoneku bergetar tanda ada panggilan masuk. Itu pacarku. Dia menangis, dia memohon padaku untuk tetap melanjutkan hubungan kita. mendengar suaranya yang memuakkan aku malah membentaknya. Dia semakin menangis. Aku berpikir bahwa dia bukan hanya laki-laki bodoh tapi juga cengeng. Tanpa ingin menjadi panjang lebar lagi, aku langsung mematikan teleponnya. Dia tetap menghubungiku tapi aku tetap saja tidak peduli padanya.

   Itulah kenanganku bersama Andi, yang kini telah menjadi mantan pacarku. Aku memang sangat keterlaluan memperlakukan dia dulu. Aku membuatnya seperti orang yang bodoh menuruti setiap mauku. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Sampai detik ini aku tidak bisa menemukan seorang laki-laki yang lebih baik darinya. Betapa bodohnya aku ya Tuhan. Aku ingin mengulangi semuanya bersama dia. Aku menyadari dia bukanlah laki-laki bodoh ataupun cengeng. Dia seperti itu karena terlalu menyayangiku. Sebenarnya bukan dia yang bodoh, tapi aku. Aku menyia-nyiakan semuanya yang sudah dia berikan kepadaku. Maafkan aku untuk setiap salahku. Kembalilah kepadaku walau hanya sebentar saja. Aku ingin berubah aku janji ingin berubah demi dia.

   Tapi sayang sekali, dia sudah punya pacar baru sekarang. Dia tidak mungkin mau kembali kepadaku. Dia pasti sudah lelah aku bodohi, dia pasti sudah lelah aku marahi.

   Maafkan kebodohanku, Andi. Jagalah hubungan kamu sama dia sekarang ya. Aku cuma bisa perhatiin kamu dari jauh. Maafkan aku...

Ain
http://dc100.4shared.com/img/1630434100/a97efa14/dlink__2Fdownload_2Fi1MqBrH-_3Ftsid_3D20130313-35301-2f246ef0/preview.mp3