“To live a creative life we must lose our fear of being wrong. Thank you for visit "Catatan Ain". I hope you can find what you want. -Ain-
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2015

Still You #4


    Sudah seminggu berlalu semenjak kita berkenalan di lorong depan kantin. Dan sejak saat itu hampir setiap malam Bagus mengirimiku sms ataupun chat. Isinya tidak terlalu penting. Seputar menanyakan keadaan, walaupun begitu ujung-ujungnya akan menjadi seru karena celoteh-celoteh Bagus yang lucu. Sesekali dia juga menelpon. Tidak jarang kami jadi tidur larut karena itu. Aku merasa nyaman dengannya. Dan aku juga berhasil membuat Sherin mlongo beberapa detik ketika aku menceritakan  kejadian itu padanya beberapa waktu lalu. Dia benar-benar tidak percaya aku bisa berkenalan dengan orang yang selalu di anggap dingin dan angkuh itu. Sherin juga kaget ketika aku katakan bahwa Bagus adalah orang yang lucu. Untuk yang satu itu dia benar-benar tidak percaya, karena Sherin tak pernah sekalipun melihat Bagus tersenyum bahkan tertawa.
***
   Sore ini aku akan pergi menonton film dengan Bagus, Sherin dan Leon, berhubung besok adalah weekend kami berencana untuk menghabiskan malam ini dengan berjalan-jalan kemanapun. Walaupun kami saling ber-sms
   “Duh, anak mama mau kemana sih? Udah cantik aja.”
   “Hihi. Pritta mau nonton ma.” Jawabku sambil mengikat tali di bajuku.
   “Sama siapa, sayang?”
   “Cuma berempat ma. Ada Sherin sama Leon. Yang satu lagi teman baruku di sekolah namanya Bagus.”
   “Ya udah kamu jangan pulang malem-malem ya nanti. Handphone kamu jangan sampai mati biar mama gampang menghubungi kamu.”
   “Iya mama. Aku kan udah gede jadi mama ngga perlu khawatir lagi kok. Eh iya ma kayanya temen aku udah di depan deh. Aku jalan ya ma” Aku menyalami tangan mama sambil mencium pipinya.
   “Ya sayang hati-hati ya. Ingat pesan mama!” Suara mama agak dikeraskan saat ini.
   “Siap bos!” Teriakku sambil menutup pintu utama.
   Aku di jemput Bagus karena kami janjian bertemu Sherin dan Leon langsung di bioskop. Di perjalanan aku lebih banyak diam karena menikmati lagu yang di putar di playlist mobil Bagus. Bagus juga tidak banyak bicara, tapi sekali saja bicara pasti menggodaku seperti biasanya. Mungkin karena canggung, kita memang tak pernah bicara secara langsung lagi setelah seminggu yang lalu. Kami hanya bicara lewat telepon. Jika berpapasan kami cuma saling melempar senyum satu sama lain. Kali ini Bagus terlihat berbeda, dia mengenakan kaos dan celana pendek tetapi rambutnya tidak dijambul. Mungkin minyak rambutnya habis, tebakku dalam hati malas bertanya sedetail itu. Penampilannya memang tidak pernah rapi, dia selalu terlihat santai. Baju sekolahnya saja tak pernah di masukkan. Perjalanan ke bioskop terasa sangat lama karena macetnya kota Jakarta yang tak kunjung reda dan sudah menjadi rutinitas yang di hadapi oleh warganya, termasuk aku. Untung saja kami berangkat lebih awal dengan niat dapat menonton film yang sudah direncanakan.
   Sekitar satu setengah jam perjalan-sudah termasuk macet-kami sampai juga. Setelah memarkirkan kendaraan, kami menemui Sherin dan Leon yang katanya sudah di dalam. Dari jauh aku bisa melihat Sherin membawa beberapa buah tiket di tangan kanannya. Kami menghampiri Sherin dan Leon. Semuanya terlihat sangat cangung.
   “Hei Bang Ale. Makin sipit aja hihi.” Godaku pada Leon berusaha mencairkan suasana
   “Haha Pritta. Selalu itu yang lo lontarin kalau ketemu Abang Ale.”
   “Oh iya, Bang Ale ini Bagus temen gue di sekolah. Dan Bagus ini Leon sepupu gue. Pacarnya Sherin juga. Kalo Sherin udah kenal kan, Gus?” Aku coba mengenalkan Leon dengan Bagus
   Leon dan Bagus saling melempar senyum. Dan akhirnya saling menjabat tangan untuk memulai perkenalan. Aku masih melihat wajah canggung diantaranya. Oleh karena itu aku meminta mereka jalan beriringan dan aku jalan dengan Sherin. Mereka mulai berbicara pembicaraan laki-laki yang tak ku ketahui, dan malas untuk ku ketahui. Kami masuk ke dalam bioskop bersama-sama.
***
   Hubunganku dengan Bagus terus berlanjut hingga kini. Mungkin sudah sekitar satu bulan. Semuanya berubah. Kami semakin dekat dan aku merasa lebih istimewa. Aku yakin dia menyukaiku walaupun dia tak pernah mengatakannya. Hubungan kami selama ini tidak berjalan lancar-lancar saja. Banyak orang yang merasa patah hati dengan kedekatan kami, walau kami sering katakan bahwa kami hanyalah teman. Tapi tak ada yang menerimanya, termasuk Jessy. Jessy seorang gadis cantik dengan rambut panjang kecoklatan yang selalu digerai menutupi punggung, matanya bulat dan bibirnya mungil, sepintas dia mirip dengan boneka ditambah bibir merah dan hidung yang bagus, tubuhnyapun bagus. Benar-benar cantik, kalau di bandingkan denganku kami memang jauh berbeda. Jessy juga orang kaya, ayahnya adalah manager di sebuah perusahaan swasta. Siapa yang tak mengenal si cantik Jessy. Selain terkenal karena kecantikannya, Jessy juga terkenal karena sifat angkuhnya.
   Karena Jessy tak menyukai kedekatanku dengan Bagus dan merasa ia diabaikan oleh Bagus karenaku, beberapa waktu lalu ia sempat menghampiriku saat aku sedang menemani Sherin ke kamar mandi sekolah. Dia datang dengan dua orang temannya dengan muka marah.
  “Lo Pritta?” Ujarnya ketus padaku
   “Ya.”
   “Lo siapanya Bagus? Ganjen bener!”
   “Bukan siapa-siapa kok. Gue ngga ganjen sama dia. Kita Cuma temen. Emang kenapa?” Aku berusaha menahan amarahku.
   “Gue pacar Bagus yang baru!”
   Aku kaget mendengar ucapannya dan berusaha menenangkan diri. “Oh gitu. Ya udah”
   “Liat aja lo berani deketin cowo gue!” Dia mengacungkan telunjuknya di depan mukaku dan pergi meninggalkanku.
   Sherin keluar kamar mandi ketika Jessy sudah pergi, dan saat ku ceritakan kejadian barusan Sherin sempat geram pada Bagus karena hanya memberiku harapan palsu. Aku tak percaya dia setega itu padaku. Ternyata Bagus sama saja seperti laki-laki lainnya.
***
   Setelah kejadian di kamar mandi, aku tak mau menemui Bagus. Hingga akhirnya, suatu siang di depan sekolah Bagus menghampriku yang sedang menunggu Kang Sono, dia minta penjelasanku mengapa aku selalu menghindarinya. Awalnya aku malas menjawab, tapi karena ia memohon-mohon dan serentetan pasang mata menatap kami akupun luluh.
   “Ta, lo ngapa jauhin gue sih? Salah apa gue?”
   “Ngga.”
   “Ta, please ada apa? Gue bingung.”
   “Ngga ada apa-apa.”
   “Gue salah apa?” Kali ini Bagus menggenggam tanganku.
   Aku menarik tanganku, aku muak dengan sikapnya yang selalu baik padaku tapi ternyata semua tak ada artinya.
   “Ya ampun Ta. Lo kenapa dah?”
   “Ngga usah pura-pura baik sama gue!”
   “Maksudnya apa Ta?”
   “Lo udah jadian kan sama Jessy!” Kali ini nadaku agak keras.
   “Hah?” Suasana menjadi senyap beberapa detik, sebelum akhirnya.. “Hahahahahahahahahaha” Tawa Bagus meledak sekeras-kerasnya hingga orang-orang yang berada di halte-yang jaraknya sekitar dua meter dari kami-menoleh kepada kami.
   “Apaan sih lo! Ngga ada yang lucu.” Aku merasa sangat malu saat itu karena di lihat banyak orang.
   “Lo yang lucu. Hahaha.” Bagus belum juga menghentikan tawanya. “Duh sakit perut gue, Ta! Hahaha”
   “Serah lo!” Aku benar-benar marah padanya.
   “Oh jadi lo marah gara-gara itu? Lo cemburu ya?”
   “Iya lah!” Aku membisu beberapa saat sampai aku sadar bahwa aku keceplosan. Aku melihat ke arah Bagus. Tapi dia juga diam, tapi seulas senyum khas-senyum dengan kumis kucing-jelas terpampang di wajahnya. Tapi aku cepat-cepat memalingkan wajahku. Ingin rasanya aku melepas wajahku dan membuangnya jauh-jauh, rasanya sangat malu. Sepertinya dia tahu bahwa aku keceplosan dan sedang diliputi rasa malu sekarang.
   Kesunyian itu bertahan beberapa detik, cukup lama sebenarnya.
   “Ta.” Bagus memanggil namaku. Tapi kali ini kedengaran lebih lembut.
   Hatiku berdebar. Tapi aku hanya menoleh sebentar ke arahnya, tanpa menjawab. Bagus tidak tersenyum, wajahnya serius.
   Bagus memegang tanganku. Detak jantungku melewati ambang rata-rata. Mungkin suaranya terdengar hingga telinga Bagus. Tanganku dingin, aku bisa merasakan peluh mulai membasahi tanganku.
   Bagus melanjutkan ucapannya “Gini. Dari awal kita ketemu di kantin, waktu aku nabrak kamu semua terasa aneh, Ta. Setelah itu aku jadi pengen ketemu kamu lagi. Aku sering kok sengaja bolak-balik di depan kelasmu untuk ketemu kamu, tapi kamu nggak merhatiin kan? Sampai aku liat kamu duduk di lorong-di depan kantin, rasanya deg-degan. Awalnya aku ragu duduk di sampingmu, karena aku pikir kamu bakalan pergi. Tapi kamu malah ngasih aku botol minum. Kamu asyik. Setelah itu semua jadi bener-bener berubah. Aku suka kamu, Ta. Aku nyaman sama kamu. Kamu mau nggak jadi cewek aku?”
   Aku mematung seketika mendengar kata-kata Bagus. Benar-benar membisu dan tak tahu harus apa. Nafasku memburu semakin cepat dan dadaku berdebar keras sekali. Tidak sadar tanganku mencengkram tangan Bagus. Aku membalikkan badanku, menghadap Bagus. Berusaha menatap matanya, dan menjawab semua ucapannya tapi kata-kataku tak mau keluar. Lama sekali aku terdiam. Akhirnya aku mengangguk dan tersenyum padanya. Aku bisa lihat raut bahagia yang tak bisa ditutupi di wajahnya.

[To be continued...]
Ain

Senin, 24 November 2014

Still You #3


   Jam weker di kamarku sudah menunjukkan pukul 23.34 tapi pelupuk mataku tak mau menutup juga. Bukan karena insomnia. Tapi aku merasa ada yang janggal pada diriku. Setelah mendengar cerita Sherin di sekolah tadi aku merasa kesal. Sherin berkenalan secara langsung dengan anak baru itu. Bukan bukan! Bukan karena dia mengkhianati sepupuku, Leon. Tapi ada persaan lain. Aku tak mau langsung mengambil kesimpulan atas apa yang aku rasakan saat ini. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa apa yang aku rasakan semata-mata karena sebal melihat Sherin menjadi ganjen padahal sebelumnya dia tidak seperti itu, apalagi dia memiliki Leon. Walaupun itu sulit diterima oleh perasaanku. Tidak mungkin aku menyukai tiang berjalan itu!
***
   Hari ini ada pertandingan basket antar kelas di sekolahku. Ternyata si anak baru itu main juga. Membuat setiap cewek di sudut sekolah berkumpul di lapangan, untuk mendukungnya. Setiap pendukung team rata-rata membawa kertas manila besar yang berisi kata-kata semangat untuk pemain. Dan ternyata sekitas 80% anak-anak cewek menulis nama ‘Bagus’ di kertas yang mereka bawa. Aku hanya menghela napas melihat itu. Perasaan itu muncul lagi. Dan sekarang bukan karena Sherin ataupun Leon. Alasan genitnya Sherin yang aku buat malam itu tak bisa digunakan lagi sekarang. Apa ini?Aku menyukainya? Ini pasti bercanda! Aku berperang melawan hati kecilku. Aku tak mungkin menyukainya. Aku bahkan tidak menganalnya. Mendengar suaranya hanya sekali saat dia bilang “sorry” dan aku benci saat dia melengos pergi setelah menabrakku, aku juga benci saat dia terlihat sok cool dengan iPod. Tapi di sudut hati kecilku yang paling dalam berkata bahwa Bagus terlihat sangat keren berlari mendribble bola basket, rambut berantakkannya bergoyang-goyang, wajahnya yang terselimuti peluh itu sangat mempesona. Sejenak aku termakan oleh rayuan hati kecilku. Tapi aku sadar bahwa aku tidak akan menyukainya! Aku memilih untuk pergi meninggalkan lapanga.
   Aku duduk di lorong depan kantin, lorong yang menyambungkan kelas-kelas dengan kamar mandi laki-laki di ujung lorong. Hari ini Sherin sedang izin sakit, padahal aku tahu kalau dia sedang menemui Leon. Karena Leon datang dari Bandung pagi tadi. Mungkin sudah sekitar setengah jam aku duduk disini memerhatikan penjaga kantin yang wara-wiri di kantin, sambil sesekali tersenyum kepad mereka. Aku benar-benar tidak mood setelah kejadian di lapangan tadi. Aku berusaha melupakan kejadian itu tapi tak 100% berhasil. Nampaknya pertandingan sudah selesai bisa dilihat karena ada beberapa pemain team basket kelas 12 IPA 1 berjalan bolak-balik di depanku menuju kamar mandi dengan peluh di badan mereka.
   Beberapa menit kemudian, saat aku masih duduk di lorong sambil menggenggam botol minuman dingin yang sedari tadi aku beli tapi tak kunjung ku minum, ada seseorang yang duduk di sampingku. Kursi yang aku duduki memang panjang, dan cukup untuk 2-3 orang. Aku menoleh. What?!!! Teriakku dalam hati. Si tiang berjalan-Bagus-anak baru-itu duduk di sampingku. Aku terpaku melihatnya mengusap peluh di dahinya. Aku tahu aku salah! Tanpa sadar aku menyodorkan botol yang sedari tadi kugenggam. Dia menoleh ke arahku. Arggghhh! Bego Pritta bego! Jeritku dalam hati. Aku coba mencairkan suasana, berusaha tak gugup walaupun mungkin suara degup jantungku bisa terdengar olehnya.
   “Nih. Belum di minum kok.” Aku menyodorkan botol minuman kepadanya.
   Dia hanya terdiam melihat tanganku dan kembali memandangku “Thanks ya.” Dia tersenyum sambil mengambil botolnya. Manis sekali!
   Kalian tahu? Jantungku seakan-akan sedang meloncat dan menari-nari di dalam tubuhku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku melemparkan senyum balasan kepadanya. Dia meminum setengah isi botol tersebut dan menoleh kepadaku.
   “Eh lo bukannya yang waktu itu gue tabrak di kantin ya?”
   “Eh?” Jawabku spontan karena kaget.
   “Sorry ya waktu itu gue ngeloyor gitu aja. Eh by the way thanks ya nih minumannya. Tau aja gue males jalan ke kantin padahal nih kantin depan hidung. Hehehe” Ujarnya sambil tersenyum kuda. Menampilkan gigi-gigi putih yang rapi berjajar.
   “Oh hehe iya ngga apa-apa kok.” Jawabku singkat karena aku benar-benar gugup saat itu.
   “Oh iya.” Dia menyodorkan tangannya. “Gue Bagus.” Dia kembali tersenyum kepadaku.
   “Iya gue tau kok.” Aku menjabat tangannya. “Gue Pritta. Tapi jangan pernah panggil gue Prit karena gue nggak suka si panggil kaya gitu. Kaya suara peluit polisi di jalan. Hehe”
   “Hahaha. Lo ada-ada aja.” Kali ini dia tertawa. Lucu sekali seperti ada kumis kucing di pipinya, entah apa namanya itu.
   Aku hanya tersenyum padanya.
   “Eh iya gue ke wc dulu ya. Ganti baju. Kecut gini gue. Ntar lari lo lagi hehehe.” Candanya
   “Dih hahaha apaan engga kok.”
   “Berarti lo suka sama bau badan gue yang kecut begini ya?”
   “Yaelaaah ngga gitu juga kali. Ya udah sana ganti baju lo!”
   “Hahaha becanda neng.”
   Aku melihat punggung Bagus berjalan menjauh hingga hilang di balik pintu kamar mandi. Sama seperti saat itu-di depan kantin-tapi bedanya kali ini ada semburat senyum di wajahku. Entah mengapa perasaan gugup itu hilang saat aku bicara banyak dengannya tadi. Entah mengapa rasanya nyaman sekali. Dan aku jadi tak mau berhenti senyum mengingat hal yang barusan terjadi padaku. Dia tidak seperti yang aku bayangkan, dan tidak seperti yang orang lain katakan. Dia tidak sombong dan dingin.
   “Eh lo kok masih disini?” Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku tak sadar ternyata aku masih duduk di lorong selama Bagus ke kamar mandi tadi, hingga dia kembali lagi. Aku hanya diam sambil mengangkat kepala melihat wajah Bagus yang tepat berdiri sekitar 30 centimeter di depanku.
   “Eh lo kok diem aja sih?Lo nungguin gue ya? Hahaha” Ia bergurau membuat wajahku berubah seperti tomat.
   “Hah? Pede banget sih huh!” Jawabku sedikit ketus dan memalingkan wajah untuk menutupi rasa malu.
   “Hehe becanda lo mah jutek banget sih jadi cewek ntar ngga ada yang naksir loh, bisa-bisa jadi perawan tua lo.”
   Aku sedikit kesal mendengar komentarnya barusan. Aku memilih untuk diam saja. Sepertinya Bagus menyadari bahwa aku kesal, beberapa kali ia coba untuk menggodaku berharap rasa kesalku akan hilang. Hmm, tapi sebenarnya rasa kesal itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rasa berbunga-bunga yang menyelimuti diriku saat ini. Entah kenapa.
   “Ta, yuk kedepan aja. Ntar kita disangka buat yang engga-engga lagi berdua di pojok sekolah kayak gini.”
   “Dih ngarep aja sih lo, Gus.”
   Tak seorangpun pernah memanggilku dengan sebutan ‘Ta’ sebelumnya. Walaupun itu adalah bagian dari namaku. Tapi sebagian orang memanggilku Pritta atau bahkan yang lebih buruk Prit. Aku tidak keberatan dipanggil ‘Ta’ setidaknya itu lebih baik daripada ‘Prit’.
   Kami-aku dan Bagus-berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong kelas yang di depannya banyak sekali siswa duduk berjajar, hari ini adalah hari bebas jadi tidak ada jam pelajaran. Entah sudah berapa puluh pasang mata menatap kami dengan tatapan heran, atau mungkin cemburu. Wajar saja baru kali ini Bagus jalan beriringan bersama seorang cewek selama ia pindah ke sekolahku. Ada perasaan senang sekaligus bangga yang berkecamuk di dadaku saat ini. Rasanya ingin senyum selebar-lebarnya memperlihatkan kepada semua yang merasa tersaingi.
   “Eh Ta, gue balik ya gue lupa ngga bawa baju ganti nih lagian hari ini kan bebas.”
   “Pantesan lo tadi ke wc niat ganti baju tapi sampe keluar baju lo tetep sama. Kirain gue lo seneng make baju yang basah kuyu begitu hehe” Aku coba menggodanya.
   “Iya gue tau sih lo suka sama bau keringat gue hahaha.”
   Aku Cuma membalas dengan memajukan bibirku tanda malas berdebat.
   “Ta gue boleh ngga minta pin atau nomor lo? Ya maksdunya kali ada perlu gampang gitu”
   Aku cukup terkejut mendengar ucapan Bagus. Aku hanya tersenyum padanya, lalu mendiktekan nomorku. Setelah itu ia pergi ke parkiran untuk mengambil motornya dan pulang.
   Bolehkan aku menyimpulkan sesuatu? Sekarang aku yakin bahwa aku menyukainya.

[To be continued..]
Ain

Rabu, 03 September 2014

Still You #2

   Benar saja! Orang yang menabrakku di kantin kemarin adalah anak baru itu, dan ternyata namanya Bagus. Dia sudah menjadi terkenal sekarang, setiap sudut sekolah pasti tahu siapa Bagus. Padahal ia baru saja 3 hari di sekolah ini. Ketampanannya membuat setiap cewek di sekolah terkagum-kagum. Terlebih lagi katanya ia pintar bermain basket. Tapi kesombongannya membuat para laki-laki di sekolah enggan untuk menjadi temannya. Itulah sebabnya ia menjadi pasif, walaupun banyak cewek yang menyukainya.
   Pelajaran Bahasa Inggris siang ini sungguh membosankan. Pak Rahmat yang tidak berhenti mengoceh dengan bahasa asing yang tak terdengar begitu jelas dengan suara khasnya yang kecil dan agak cempreng sukses mengundang kantukku. Entahlah mengapa hari ini begitu membosankan bagiku. Tidak seperti hari-hari kemarin. Tidak tahu sudah berapa batang isi pensil mekanik yang aku habiskan dalam satu mata pelajaran ini. Aku mencoret-coret bagian belakang buku catatanku. Tanpa ku sadari Sherin memperhatikanku diam-diam.
   “Heh lo kenapa sih?” Bisiknya
   “Gue bete, Sher si botak ngomong mulu daritadi. Ngantuk gue.”
   “Hihihi. Tumben lo.” Sherin cekikikan
   “Iya gatau nih hari ini bete banget gue. Udah ah gue mau ke wc Sher.”
   “Yeee dasar nih anak bule tapi sama bahasa inggris ga demen.”
   "Gue Pakistan, Sher please deh ngga pake bahasa inggris.”
   Iya. Ayahku  memang keturunan Pakistan-Indonesia. Jadi saja wajahku ini sedikit mirip bule. Padahal menurutku hidungku tidak mancung-mancung amat dan rambutku juga tidak pirang. Tapi, setiap bertemu orang baru mereka akan tahu bahwa aku adalah keturunan luar.
   Setelah berhasil meninggalkan kelas dengan alasan ingin ke kamar mandi, aku melihat jam tangan bermotif bunga-bunga yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Tinggal 15 menit lagi mata pelajaran si botak-Pak Rahmat-akan habis disusul jam istirahat kedua. Ku putuskan setelah ke kamar mandi, untuk langsung menuju kantin. Agar aku kebagian makanan dan tidak berdesak-desakkan dengan siswa lainnya-seperti pemandangan dua hari lalu.
   Dari kejauhan aku dapat melihat ada seseorang yang sudah tak asing lagi duduk di meja panjang depan kantin, sendirian. Bagus. Ngapain anak baru itu nongkrong disana, bukannya ini masih jam pelajaran. Dan sebelumnya aku tidak dengar suara bel istirahat, batinku. Entah mengapa aku menjadi penasaran dan peduli kepada orang yang sudah menabrakku tempo lalu. Kontan saja aku menepuk jidatku karena merasa bodoh. Tak sadar aku menepukkunya terlalu keras sehingga aku mengaduh sendiri. Aku berjalan menuju kantin sambil memegang jidatku-seperti habis menabrak tiang- tak peduli dengan seseorang yang sedang duduk disana. Sebenarnya aku peduli. Karena aku sempat melirik sedikit ke arahnya saat lewat di depannya, dia sedang memainkan iPod. Huh dasar sok cool ngapain sih make-make earphone gitu, batinku lagi.
   Aku memesan mie ayam. Sambil menunggu, aku masih melirik ke arah luar, ke arah meja panjang di depan kantin. Dia masih disana dengan iPod dan earphonenya, tapi kali ini dia memejamkan matanya mungkin sedang menikmati lagu yang dia dengarkan. Duuuuh! Kok aku jadi peduli gini sih sama dia! Pesananku siap dan seperti berjanjian bel istirahat berbunyi. Aku mengeluarkan ponsel dari saku jaket rajutanku, aku mengirimi Sherin pesan memberitahukan bahwa aku menyasar di kantin dan meminta dia untuk datang menemaniku makan mie ayam.
***
   “Duh Priiiit lo liat ga tadi si Bagus senyumin gue! Tadi pas di kantin pas kita makan mie ayam.” Ujar Sherin dengan wajah berbunga-bunga dan senyum yang di buat semanis mungkin olehnya.
   “Nama gue Pritta!” Jawabku ketus. Lagi-lagi Sherin salah memanggilku. Huuuft.
   “Hihi iya iya Pritta gue lagi seneng banget tau ngga! Lo sih tadi ngga liat. Huh.” Sherin masih senyum-senyum sendiri dengan wajah berbunga-bunga yang tidak bisa di sembunyikan.
   “Iya gue tau, Sher. Gue udah denger ratusan kali lo ngomong kaya gitu setelah kita balik dari kantin tadi!” Aku menjawab Sherin dengan malas.
  “Ih lo kenapa sih? Gue kan lagi seneng. Lo ngga suka gue seneng?”
   “Dih apaan sih Sher. Gue cape tau ga liat senyum lo tuh yang sok-sok manis kaya gitu. Lagian kan lo udah punya Leon. Ngapain lo masih aja seneng di senyumin tuh anak baru. Sebel gue. Inget ya sepupu gue tuh sayang banget sama lo. Jangan disakitin kek!”
   Iya pacar Sherin memang sepupuku. Namanya Leon. Mahasiswa ekonomi semester dua sebuah universitas swasta di Bandung. Ya, mereka memang menjalani hubungan jarak jauh. Dan hanya bisa bertemu seminggu sekali. Itupun kalau Leon tidak sibuk, kalaupun Leon sibuk Sherin yang datang mengunjunginya ke Bandung. Menurutku masih jauh lebih baik Leon di bandingkan anak baru itu. Bukan karena dia sepupuku. Leon adalah anak yang baik dan pintar, dia juga ganteng, matanya sipit memakai kacamata dan kulitnya putih, badannya juga tinggi dan berbentuk. Tidak seperti anak baru itu, badannya seperti tiang dan rambutnya juga tidak rapi bahkan dia juga sombong, banyak orang yang tidak suka.
   “Iya deh maafin gue ya Priiit. Abis dia kan banyak yang suka jadi gue jadi gimana gitu deh di senyumin sama dia. Gue ngga punya perasaan apa-apa kok.” Ujar Sherin dengan manja.
   Aku mencoba menenangkan hatiku. Dia memanggilku seperti suara peluit polisi, lagi. Aku coba tidak marah soal itu. “Awas ya lo nyakitin sepupu gue, Sher.”
   “Iya gue janji ga akan nyakitin Leonardo Tjandrawinata sepupu Abelina Prittantia Suroso.” Ucap Sherin sambil mengacungkan jari kelingking mungilnya. Aku mengaitkan kelingkingku di kelingkingnya. Dan kami sama-sama tersenyum. Akhirnya jemputan kami datang berbarengan.
   “Bye Priiiiiit. Hihi.” Teriak Sherin dari kaca mobilnya.
   Aku tidak menjawab, karena aku malu berteriak-teriak seperti itu di depan umum. Lambaian tanganku pada Sherin sebagai pertanda aku menjawab teriakannya. Sherin tidak marah ataupun kecewa, karena dia tahu aku malu.

[To be continued..]
Ain

Selasa, 02 September 2014

Still You #1

   Tuhan, aku ingin sembuh.
   “Ku baca tulisan itu di dalam note ponselmu. Air mataku sudah tak bisa tertahan lagi, memaksa keluar dari pelupuk mataku. Tak sadar air berlinang di pipiku. Memoriku tentangmu sekelibat melintasi otakku. Tawamu jelas mengiang di telingaku. Air mataku semakin deras menetes. Hatiku sakit sekali mengingatmu. Tak ada carakah yang bisa aku lakukan untuk menghadapi ini? Mengapa kamu tega padaku? Aku belum cukup mengenalmu, tapi kamu sudah pergi.”
***
   Kriiiiiing...Kriiiiiiing
   Suara jam weker yang bertengger tepat di depan wajahku benar-benar sukses membuatku terperanjat. Ku lihat jarum jam terpendek dengan tatapan serius karena penglihatanku belum fokus saat baru bangun seperti ini. Seketika mataku membelalak layaknya ingin loncat. Jam menunjukkan pukul 7.40 wib. Dan itu artinya sekolahku di mulai 20 menit lagi, tapi nyatanya aku masih ada di atas tempat tidur saat ini. Entah memakai jurus apa dengan sigap aku menyambar handuk dan segera masuk kamar mandi. Untung saja di dalam kamarku sengaja disediakan kamar mandi. Sebab orang tuaku malas bergantian kamar mandi denganku katanya saat mandi aku seperti putri solo.
   Seperti biasanya, aku diantar Kang Sono ke sekolah. Kang Sono adalah supir pribadi orang tuaku. Dengan perawakan tambun dan kulit sedikit gelap ditambah kumis tebalnya, Kang Sono bisa merangkap sebagai bodyguard buatku. Awalnya Kang Sono adalah satpam di kantor Ayah, tetapi ia berhenti kerja karena istrinya di kampung akan melahirkan. Setelah beberapa minggu pulang ke kampung, Kang Sono kembali lagi ke tempatnya bekerja tetapi posisinya sudag tergantikan oleh satpam yang baru. Padahal saat ini, ia sangat membutuhkan uang untuk biaya persalinan sang istri. Karena iba, ayah memperkerjakannya sebagai satpam pribadi bagi keluarga hingga saat ini. Aku punya beberapa cerita bersama Kang Sono. Seperti contohnya dua minggu yang lalu, saat aku akan pergi ke toko buku bersama Kang Sono, ada beberapa kumpulan anak laki-laki yang berpenampilan garang menghampiriku yang baru keluar dari mobil. Mereka menggangguku, tetapi dengan sigap Kang Sono keluar dan menghardik mereka dan alhasil mereka lari ketakutan. Padahal selama hidupnya Kang Sono tidak pernah memukul orang sekalipun tetapi berkat badannya semua orang menjadi segan padanya. Tapi, kali ini bukan ceritaku dan Kang Sono yang aku bahas. Melainkan ceritaku bersama orang yang menggagumkan yang selalu membuat hatiku berdebar.
***
   “Priiiiit!”
   Suara yang tidak asing lagi bagiku. Suara yang selalu memekakkan telinga. Siapa lagi kalau bukan Sherin, sahabatku dari SD.
   “Apaan sih, Sher? Bisa ngga sih lo kalau manggil tuh yang bener dikit. Nama gue Pritta!”
   Aku sangat benci saat orang-orang memanggil namaku setengah-setengah, seperti Sherin yang selalu memanggilku dengan sebutan ‘Prit’ seperti seorang polisi yang meniup peluitnya.
   “Haha sorry lah, Prit eh maksud gue Pritta cantik hihi. Gue mau pulang bareng aja sama lo ntar. Bisa kan? Abang gue ngga bisa jemput hehe”
   “Ah lo mah gue pikir ada berita heboh apaan!” Jawabku sedikit ketus.
   Aku berjalan melewati lorong panjang bersama Sherin menuju parkiran, mendengarkan cerita-ceritanya bersama kekasih barunya. Cewek imut yang selalu menguncir rambut ini memang cerewet sejak SD. Tidak heran, karena ia mempunyai dua buah tahi lalat di dekat bibirnya. Dan kini kami masih sekolah di SMA yang sama walaupun sempat beda kelas tapi kami ngotot untuk dipindahkan di kelas yang sama. Bagiku Sherin ini penghibur bagiku saat aku sedang merasa sedih. Dia semacam moodbooster bagiku.

   “Eh, Prit! Lo tau nggak?”
   “Nama gue Pritta! Kenapa?”
   “Iya iya PRITTA! Ada anak baru di kelas IPA 2. Cowok. Ganteng banget katanya. Tapi pasif gitu anaknya.” Ujar Sherin dengan mata yang di lebar-lebarkan
   “Ah gosip aja lo! Lo udah liat anaknya?”
   “Udah! Dan bener aja ganteng banget!”
   “Lo naksir ya? Ih lo kan udah punya pacar, Sher” Ucapku menggoda sahabatku ini.
   “Ah rese lo! Engga! Gue ngga naksir!”
   “Hahahaha”
   Tawaku meledak karena sukses mengerjainya sekaligus melihat muka Sherin menjadi memerah. Obrolan kecil kami di dalam mobil pun berlanjut  hingga tiba di depan rumah berpagar kayu coklat.
   “Daaaa. Thanks ya Priiiiit! Hihi. Besok lo kudu liat tuh cowo. Titik! Makasih juga Kang Sono. Bye!” Teriak Sherin sambil menutup pintu mobil. Aku hanya bisa membenamkan wajah kesalku karena panggilan Sherin barusan.
   Setelah sekolah berakhir, aku kembali ke rumah. Dan hidpuku berjalan seperti biasanya sebagai anak tunggal. Tidak ada yang istimewa di dalam rumah besar yang selalu ditinggalkan karena orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan.
***
   Hari ini kantin sekolahku terlihat begitu ramai. Di mana-mana orang berdesak-desakkan ingin membeli makanan. Aku melihatnya saja sudah lelah, jadi aku putuskan untuk berdiri di depan kantin dengan tangan di silangkan di dada dan mulut sedikit manyun, inilah tandanya jika aku sedang kesal. Bagaimana tidak, pagi ini aku tidak sempat sarapan apalagi menyiapkan bekal. Aku bangun kesiangan lagi. Padahal sekolahku ini adalah salah satu sekolah favorit di Jakarta Pusat tetapi servicenya sama saja seperti pasar. Saat sedang asik dengan kekesalanku mengenai kantin, ada seseorang yang menabrakku dari belakang. Kontan rasa kesalku memuncak. Dengan sigap aku membalikkan badan dan mebentaknya.
   “Kalau jalan hati-hati dong!”
   Aku sedikit terkejut setelah melihat wajahnya. Seorang laki-laki tinggi, berkulit putih dan rambut yang sengaja ditata seperti jambul, ia memakai sweater biru laut dan sebuah earphone tergantung di kuping dan lehernya. Dia sangat cool. Ia terlihat asing bagiku. Dalam hatiku aku bertanya Siapakah orang ini? Aku tidak pernah melihatnya selama tiga tahun aku bejar disekolah ini. Apakah dia anak baru yang Sherin ceritakan?

   “Sorry.” Jawabnya dengan tatapan sinis dan kembali berjalan menjauhiku. Hingga aku hanya dapat menatap punggungnya saja yang semakin jauh hilang di tengah keramaian.


[To be continued..]
Ain
http://dc100.4shared.com/img/1630434100/a97efa14/dlink__2Fdownload_2Fi1MqBrH-_3Ftsid_3D20130313-35301-2f246ef0/preview.mp3